Ambon — Wakil Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Provinsi Maluku, Siti Difinubun, menegaskan bahwa peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW harus dimaknai lebih dari sekadar ritual keagamaan. Momentum suci ini, menurutnya, menjadi ruang refleksi mendalam bagi kaum intelektual Muslim untuk melakukan muhasabah diri sekaligus memperkuat tanggung jawab sosial di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
Ia menyampaikan bahwa di tengah dinamika sosial, politik, dan perkembangan keilmuan yang terus bergerak cepat, Isra Mi’raj menghadirkan pesan moral yang relevan bagi ISNU sebagai organisasi kaum sarjana Nahdlatul Ulama.
“Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa historis, tetapi panggilan untuk meningkatkan kualitas diri secara intelektual dan spiritual,” ujar Siti Difinubun.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa makna perjalanan Isra dan Mi’raj mengajarkan keseimbangan antara dimensi horizontal dan vertikal kehidupan. Isra melambangkan gerak sosial dan rasionalitas, sementara Mi’raj mencerminkan kedalaman spiritual dan hubungan dengan Tuhan.
Menurutnya, intelektualitas tanpa spiritualitas berisiko melahirkan kesombongan, sedangkan spiritualitas tanpa intelektualitas akan kehilangan daya transformasi sosial.
Siti Difinubun juga menyoroti makna perintah salat yang diterima Rasulullah SAW di tengah masa penuh kesedihan. Peristiwa tersebut, kata dia, menegaskan bahwa kualitas ibadah merupakan fondasi utama pembentukan akhlak, keteguhan moral, dan martabat seorang mukmin.
“Bagi ISNU, ini berarti menata ulang niat pengabdian, memperbaiki kualitas ibadah, dan menjadikan nilai keislaman sebagai kompas etis dalam setiap peran sosial dan profesional,” jelasnya.
Di tengah tantangan zaman seperti krisis moral, disrupsi teknologi, dan ketimpangan sosial, keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam menghadapi situasi sulit juga menjadi pelajaran penting.
Isra Mi’raj, menurutnya, mengajarkan sikap istiqamah, keteguhan, serta keberanian untuk tetap adaptif dan kreatif menghadapi perubahan.
Pada akhirnya, Ketua ISNU Maluku menekankan bahwa refleksi Isra Mi’raj harus bermuara pada penguatan kesalehan sosial. Ilmu dan kapasitas intelektual yang dimiliki anggota ISNU tidak boleh berhenti pada diskursus, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata bagi kemaslahatan masyarakat.
“Isra Mi’raj seharusnya menjadi momentum strategis bagi ISNU untuk meneguhkan peran sebagai intelektual religius yang berpihak pada nilai kemanusiaan, keadilan, dan kemajuan bersama,” pungkas Siti Difinubun.



















