Jombang – Tiga Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor dari Maluku, Sulawesi Selatan, dan Papua Barat melakukan ziarah ke makam pendiri GP Ansor, KH Abdul Wahab Chasbullah (Mbah Wahab), pada Senin (6/7/2026), sehari sebelum penetapan resmi lokasi pelaksanaan Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35.
Ziarah tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap salah satu pendiri Nahdlatul Ulama sekaligus bentuk dukungan atas penetapan lokasi muktamar yang dinilai memiliki nilai historis kuat dan erat kaitannya dengan jejak perjuangan Mbah Wahab dalam membangun NU serta melahirkan GP Ansor.
Rangkaian doa yang dipanjatkan di pusara Mbah Wahab tidak hanya menjadi tradisi spiritual, tetapi juga penegasan komitmen kader Ansor untuk menjaga warisan perjuangan para muassis NU. Para pimpinan wilayah menilai penyelenggaraan Muktamar NU di kawasan yang sarat sejarah akan memperkuat semangat kader dalam merawat nilai pengabdian, persatuan, kaderisasi, serta kemandirian umat.

Ketua PW GP Ansor Maluku, H. Ridwan Nurdin, menyatakan penetapan lokasi Muktamar NU ke-35 merupakan keputusan yang tepat karena memiliki makna historis yang mendalam bagi keluarga besar Nahdlatul Ulama.
“Tempat ini menyimpan jejak perjuangan Mbah Wahab Chasbullah yang begitu besar bagi Nahdlatul Ulama dan GP Ansor. Muktamar di lokasi yang penuh nilai sejarah akan semakin menguatkan komitmen kader untuk menghormati para pendiri sekaligus melanjutkan perjuangan mereka dalam menjaga agama, bangsa, dan negara,” ujarnya.
Senada, Ketua PW GP Ansor Sulawesi Selatan, Muh. Ridwan Yusuf, menyebut penetapan lokasi tersebut bukan sekadar keputusan teknis penyelenggaraan, tetapi momentum menghidupkan kembali semangat perjuangan para ulama pendiri NU.
Menurutnya, muktamar harus menjadi ruang refleksi bagi seluruh warga Nahdliyin untuk terus mempelajari dan meneladani keteladanan Mbah Wahab Chasbullah dalam membangun organisasi, pendidikan, dan kaderisasi.
Sementara itu, Ketua PW GP Ansor Papua Barat, Badarudin Herenba, berharap Muktamar NU ke-35 mampu memperkuat persaudaraan, memperkokoh komitmen kebangsaan, serta menghasilkan keputusan strategis bagi kemajuan Nahdlatul Ulama.
Ia menegaskan bahwa semangat perjuangan para ulama pendiri harus terus menjadi fondasi dalam menjaga persatuan dan memperluas pengabdian kader NU di seluruh Indonesia.
Ketiga pimpinan wilayah GP Ansor sepakat bahwa ziarah ke makam Mbah Wahab merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa ulama yang telah meletakkan dasar perjuangan Nahdlatul Ulama dan GP Ansor. Mereka berharap Muktamar NU ke-35 tidak hanya menjadi forum permusyawaratan tertinggi organisasi, tetapi juga momentum memperkenalkan kembali keteladanan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai ulama, pendidik, tokoh organisasi, Pahlawan Nasional, pelopor kaderisasi, sekaligus penggerak kemandirian ekonomi umat kepada generasi penerus bangsa.



















