Menjelang perhelatan Piala Dunia 2026, ajang sepak bola terbesar sejagat yang akan digelar pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, sorotan publik global tak hanya tertuju pada persiapan stadion dan tim peserta, tetapi juga pada kebijakan imigrasi negara tuan rumah.
Pemerintah Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump mengumumkan penangguhan visa imigran tanpa batas waktu bagi warga dari 75 negara. Kebijakan ini diumumkan pada 14 Januari 2026 melalui akun resmi X Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (DHS) dan akan mulai berlaku pada 21 Januari 2026.
Warga dari puluhan negara di Asia, Afrika, Eropa Timur, Amerika Latin, hingga Karibia termasuk Brasil, Iran, Nigeria, Pakistan, Mesir, dan Uruguay berpotensi kesulitan memasuki wilayah AS. Penangguhan ini dinilai dapat memengaruhi mobilitas jutaan penggemar sepak bola yang berniat menyaksikan langsung Piala Dunia 2026.
Pemerintah AS menyatakan penghentian sementara pemrosesan visa imigran dilakukan karena kekhawatiran para pendatang akan “mengambil manfaat kesejahteraan rakyat Amerika dalam tingkat yang tidak dapat diterima.” Hingga kini, belum ada kepastian kapan penangguhan tersebut akan dicabut.
Khususnya di Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama Piala Dunia 2026, yang dijadwalkan menggelar sebagian besar pertandingan turnamen 48 negara tersebut.
FIFA akhirnya angkat bicara di tengah kekhawatiran publik. Federasi sepak bola dunia itu mengungkapkan antusiasme penggemar tetap sangat tinggi. Dalam 33 hari terakhir, lebih dari 500 juta permintaan tiket Piala Dunia 2026 telah tercatat secara global, sebuah angka yang menunjukkan besarnya harapan publik terhadap pesta sepak bola empat tahunan ini.
Namun di balik euforia tersebut, kebijakan visa AS memunculkan kegelisahan baru. Bagi banyak suporter, Piala Dunia bukan sekadar pertandingan, melainkan mimpi seumur hidup. Kini, mimpi itu terancam terbentur tembok kebijakan, meninggalkan tanda tanya besar: apakah sepak bola benar-benar bisa dinikmati semua orang, tanpa batas dan tanpa diskriminasi.



















