Oleh Friady Toisuta
Ambon, Maluku — Rencana pembangunan pelabuhan terintegrasi sebagai bagian dari Proyek Strategis Nasional (PSN) di Provinsi Maluku kini memasuki fase krusial penentuan lokasi. Pemerintah daerah menyatakan Ambon sebagai lokasi paling siap secara teknis. Namun, di tengah urgensi restrukturisasi logistik kawasan timur Indonesia, publik patut bertanya: apakah keputusan ini benar-benar menjawab kebutuhan masa depan, atau hanya solusi instan jangka pendek?
Isu ini bukan sekadar soal titik koordinat di peta. Ia menyangkut arah pembangunan Maluku 20 hingga 30 tahun ke depan.
Apa yang Diputuskan?
Pemerintah Provinsi Maluku mengiakan Ambon sebagai lokasi pelabuhan terintegrasi PSN dengan alasan kesiapan infrastruktur, kedalaman perairan, serta konektivitas antarmoda yang telah tersedia.
Secara teknokratis, argumen ini dapat dipahami. Ambon memiliki Pelabuhan Yos Sudarso sebagai simpul logistik utama dan menjadi pusat distribusi barang konsumsi terbesar di Maluku.
Namun, keputusan tersebut dinilai terlalu berorientasi pada efisiensi jangka pendek.
Siapa yang Berkepentingan?
Kebijakan ini melibatkan Pemerintah Provinsi Maluku, pemerintah pusat, pelaku usaha logistik, investor, serta seluruh masyarakat Maluku yang terdampak oleh struktur biaya distribusi dan arah pembangunan ekonomi.
Di atas semuanya, Gubernur Maluku memegang peran strategis sebagai aktor politik utama yang dapat melobi pemerintah pusat untuk mengarahkan ulang kebijakan lokasi pembangunan.
Di Mana Seharusnya?
Pulau Pulau Seram muncul sebagai alternatif strategis. Berbeda dengan Ambon yang lahannya terbatas, Seram memiliki ruang pengembangan luas untuk pelabuhan laut dalam (deep sea port) dan kawasan industri terpadu.
Seram bukan sekadar lokasi alternatif ia adalah peluang transformasi.
Kapan Dampaknya Terasa?
Jika pelabuhan dibangun di Ambon, dampak efisiensi mungkin terasa dalam waktu cepat: stabilisasi harga dan kelancaran distribusi.
Namun jika dibangun di Seram, efek transformasinya akan terasa dalam jangka panjang 20 hingga 30 tahun ke depan berupa pusat pertumbuhan baru, pengolahan hasil perikanan dan pertanian, serta ekspor berbasis nilai tambah.
Pertanyaannya: apakah Maluku ingin nyaman hari ini, tetapi stagnan esok hari?
Mengapa Seram Lebih Visioner?
Ambon memang unggul dari sisi infrastruktur eksisting. Tetapi kota ini menghadapi keterbatasan ruang ekspansi untuk pelabuhan skala hub internasional.
Sebaliknya, Seram menawarkan:
Ketersediaan lahan luas untuk kawasan industri terpadu
Potensi sumber daya alam besar
Peluang mengurangi ketimpangan pembangunan yang selama ini terpusat di Ambon
Menempatkan pelabuhan di Seram berarti menggeser paradigma: dari pusat distribusi konsumsi menjadi pusat produksi dan ekspor.
Maluku selama ini menjadi simpul distribusi. Tanpa keberanian mengubah arah, status itu akan terus melekat.
Bagaimana Caranya?
Pembangunan di Seram memang membutuhkan investasi awal besar: jalan lintas, konektivitas logistik, dan infrastruktur dasar. Namun pembiayaan dapat dilakukan bertahap melalui skema KPBU dan dukungan APBN.
Yang dibutuhkan saat ini adalah keberanian politik.
Gubernur Maluku harus melobi pemerintah pusat agar kajian kebijakan tidak berhenti pada parameter kesiapan teknis, tetapi memasukkan variabel transformasi struktural dan pemerataan ekonomi jangka panjang.
Mendesak Kepemimpinan yang Visioner
Keputusan lokasi pelabuhan PSN adalah keputusan sejarah. Jika hanya berpijak pada efisiensi jangka pendek, Ambon memang rasional. Namun jika Maluku ingin melompat menjadi kekuatan ekonomi maritim di timur Indonesia, maka Seram adalah pilihan strategis.
Publik Maluku perlu menyuarakan aspirasi ini secara kolektif. Akademisi, pelaku usaha, tokoh masyarakat, dan generasi muda harus mendorong agar kebijakan tidak sekadar praktis, tetapi visioner.
Karena pada akhirnya, pertanyaan mendasarnya sederhana:
Apakah Maluku ingin tetap menjadi halaman belakang distribusi, atau berdiri sebagai pusat produksi dan pertumbuhan baru?
Jawaban atas pertanyaan itu ada pada keberanian gubernur hari ini dalam menentukan arah lobi kebijakan ke Jakarta.



















