AMBON – Arus mudik Lebaran yang seharusnya menjadi momen penuh suka cita, justru berubah menjadi pengalaman buruk bagi pengguna jasa kapal penyeberangan rute Ambon–Namlea. Pelayanan di Pelabuhan Slamet Riyadi Ambon menuai kritik keras akibat manajemen yang dinilai tidak profesional dan mengabaikan kenyamanan serta keselamatan penumpang.
Keluhan Penumpang:
Antrean Berjam-jam dan Desak-desakan
Masyarakat mengeluhkan sistem boarding pass yang lamban hingga pembukaan akses masuk kapal yang hanya menggunakan satu pintu. Akibatnya, terjadi penumpukan massa dan aksi saling desak antarpenumpang yang tak terhindarkan. “Sistem pelayanan di sini benar-benar bobrok. Kami harus mengantre berjam-jam di bawah kondisi yang tidak manusiawi hanya untuk masuk ke kapal,” keluh salah satu calon penumpang.
Kritik Tajam Marwan Titahelu
Menanggapi carut-marutnya kondisi ini, pengamat sekaligus perwakilan masyarakat, Marwan Titahelu, angkat bicara. Ia menegaskan bahwa masalah ini adalah lagu lama yang terus berulang tanpa ada solusi konkret dari pihak pengelola.
“Kondisi ini bukan hal baru, tapi seolah dibiarkan tanpa evaluasi. Masalah boarding pass dan penyempitan pintu masuk itu teknis sederhana yang gagal dikelola dengan baik. Ini bukti nyata ketidakmampuan manajemen pelabuhan dalam memitigasi lonjakan penumpang,” tegas Marwan Titahelu.
Desakan Pencopotan Kepala Pelabuhan
Marwan juga mendesak Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas I Ambon untuk mengambil langkah tegas. Menurutnya, jika tidak ada perbaikan signifikan dalam waktu dekat, maka reformasi kepemimpinan di pelabuhan tersebut harga mati.
“Kami meminta KSOP segera turun tangan. Jika sistem pelayanan tidak berubah, kami menuntut agar Kepala Pelabuhan Slamet Riyadi segera dicopot. Kami tidak butuh pemimpin yang tidak becus dan menutup mata terhadap penderitaan rakyat yang ingin mudik,” pungkas Marwan



















