Buru Selatan – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Desa Waehaka, Kecamatan Leksula, Kabupaten Buru Selatan, akhirnya merasakan kebahagiaan yang telah lama dinantikan. Listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) kini resmi menyala selama 24 jam penuh, menjangkau 100 persen pelanggan di desa tersebut.
Peresmian layanan listrik penuh ini dilakukan pada Februari 2026, hanya beberapa hari sebelum umat Muslim memasuki Ramadhan. Instalasi jaringan yang telah rampung menjadi jawaban atas kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini hanya menikmati listrik dengan jam operasional terbatas.
Direksi PLN Unit Induk Wilayah Maluku–Maluku Utara bersama jajaran teknis menjadi pihak yang menuntaskan penyalaan listrik penuh di Desa Waehaka. Program ini merupakan bagian dari komitmen PLN dalam memperluas rasio elektrifikasi hingga ke wilayah terpencil di Maluku.
Sebelumnya, sejumlah desa di Kecamatan Leksula juga telah lebih dulu menikmati layanan listrik 24 jam menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru, yakni Desa Wawali, Sialale, Waeturen, Terkuri, Garawaen, Wanulhelat, dan Waemulang. Dengan selesainya penyalaan di Waehaka, seluruh desa tersebut kini resmi teraliri listrik tanpa henti.
Program penyalaan listrik ini berlangsung di Desa Waehaka, Kecamatan Leksula, Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku. Penyalaan penuh dilakukan menjelang Ramadhan 2026, menjadi momen yang dinilai sangat berarti bagi masyarakat setempat.
Bagi warga Waehaka, listrik bukan sekadar penerangan. Listrik menjadi penopang aktivitas ekonomi, pendidikan anak-anak, hingga kelancaran ibadah, terutama di bulan suci Ramadhan.
Saleh, salah satu warga Desa Waehaka, mengungkapkan rasa syukur atas terealisasinya layanan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada anggota DPRD, Lasongko Tinggi, yang dinilai aktif memperjuangkan aspirasi warga hingga ke tingkat provinsi dan PLN wilayah.
“Sekarang katong kampong su manyala. Tolong jaga akang, jang sampe mati-mati, supaya katong bisa puasa di bulan suci ini dengan sebaik-baiknya,” ujarnya penuh harap.
Pernyataan itu menggambarkan harapan sederhana masyarakat: listrik yang stabil agar ibadah sahur, tarawih, hingga aktivitas malam hari selama Ramadhan dapat berjalan lancar.
Anggota DPRD Lasongko Tinggi menjelaskan bahwa aspirasi masyarakat disampaikan melalui Rapat Dengar Pendapat Komisi II DPRD serta komunikasi intensif dengan pihak PLN, baik melalui pertemuan langsung maupun sambungan telepon dan pesan singkat.
Menurutnya, penyalaan listrik 24 jam di Waehaka merupakan hasil sinergi antara masyarakat, wakil rakyat, dan PLN. Ia menyebut langkah ini sebagai bagian dari upaya menghadirkan keadilan energi bagi wilayah terpencil di selatan Pulau Buru.
Kini, dengan listrik yang menyala tanpa henti, Desa Waehaka memasuki Ramadhan dengan suasana baru lebih terang dan penuh optimisme. Anak-anak dapat belajar pada malam hari, pelaku usaha kecil dapat memperpanjang jam operasional, dan masyarakat bisa menjalankan ibadah dengan lebih khusyuk.
Ia pun berterimakasih karena awalnya selaku anggota DPRD mengusulkan 102 kk yang berminat. Tetapi karena anggaran BPBL dari ESDM untuk pemasangan instalasi geratis hanya mampu memenuhi sebagian konsumen saja. Dengan rasio sisanya akan di bantu oleh anggran desa dan apbd. Tapi akhirnya kami bersukur karena semua usulan hampir seratus kk terjawab semua dengan geratis.
Bagi warga Waehaka, terang listrik bukan sekadar cahaya. Ia menjadi simbol hadirnya perhatian negara hingga ke pelosok, sekaligus bukti bahwa perjuangan dan doa yang panjang akhirnya berbuah nyata.



















