AMBON, 31 Maret 2026 — Antrean panjang kendaraan di sejumlah SPBU di Kota Ambon dalam beberapa hari terakhir menimbulkan keresahan di tengah masyarakat. Kondisi ini terjadi di beberapa titik seperti kawasan Mardika dan Galala, bahkan antrean dilaporkan mencapai hingga tiga kilometer.
Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Ambon, Haris Molle, pada Selasa (31/3), mengimbau masyarakat untuk tidak panik dan menghindari aksi pembelian berlebihan (panic buying). Ia menegaskan bahwa ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) untuk wilayah Maluku, khususnya Ambon, masih dalam kondisi aman dan berada di bawah pengawasan pihak Pertamina.
“Antrean ini lebih banyak dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terhadap isu kenaikan harga BBM per 1 April yang belum tentu benar. Jangan sampai ketakutan ini justru membuat kita menciptakan kelangkaan sendiri,” ujar Haris.
Lonjakan antrean BBM dipicu oleh meningkatnya pembelian secara serentak oleh warga.
Masyarakat Kota Ambon sebagai pengguna BBM, serta pihak pemerintah dan aparat yang diminta melakukan pengawasan.
Fenomena ini terjadi dalam beberapa hari terakhir, menjelang akhir Maret 2026, di sejumlah SPBU di Kota Ambon.
Menurut Haris, kondisi ini dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan lokal. Secara global, meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran dan Israel yang melibatkan Amerika Serikat, memicu kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak dunia. Jalur strategis seperti Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global menjadi perhatian utama.
Selain itu, Indonesia yang masih bergantung pada impor minyak turut merasakan dampak fluktuasi harga global. Di tingkat lokal, cuaca buruk di perairan Maluku juga berpotensi menghambat distribusi BBM.
Namun demikian, faktor utama yang memperparah situasi saat ini adalah dampak psikologis masyarakat akibat beredarnya informasi di media sosial mengenai kenaikan harga BBM. Informasi yang belum terverifikasi ini mendorong warga membeli BBM dalam jumlah besar secara bersamaan.
Haris Molle menekankan pentingnya edukasi publik agar masyarakat tetap rasional dalam menyikapi situasi. Ia juga meminta pemerintah daerah dan aparat kepolisian meningkatkan pengawasan untuk mencegah praktik penimbunan maupun penjualan BBM dengan harga tidak wajar.
“Kami berharap aparat bertindak tegas terhadap oknum yang memanfaatkan situasi. Mari bersama menjaga ketertiban dan tidak memperkeruh keadaan,” tegasnya.
Di tengah ketidakpastian global, masyarakat diimbau untuk tetap tenang, bijak dalam membeli BBM sesuai kebutuhan, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.

















