AMBON — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ambon menyoroti persoalan kemiskinan dan pengangguran pemuda di Kota Ambon. Organisasi tersebut mendorong pemerintah memperkuat UMKM, ekonomi kreatif, serta industrialisasi berbasis potensi daerah untuk menciptakan lapangan kerja produktif.
Hal itu disampaikan Ketua Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi HMI Cabang Ambon, Yahya Ngabalin, saat diwawancarai wartawan di Cafe Ujung JMP, Sabtu, 19 September 2026.
Yahya mengapresiasi sejumlah kebijakan Pemerintah Kota Ambon di bawah kepemimpinan Wali Kota Bodewin M. Wattimena dalam mendorong pengembangan UMKM, kewirausahaan pemuda dan ekonomi kreatif. Namun, menurut dia, berbagai program tersebut perlu diarahkan agar berdampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja.
“Kami mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Ambon yang mulai memberikan perhatian lebih terhadap UMKM, ekonomi kreatif dan pengembangan kewirausahaan pemuda. Tetapi pemerintah juga perlu melihat persoalan yang masih dihadapi pemuda, terutama kemiskinan, pengangguran, keterbatasan lapangan kerja dan sulitnya akses terhadap modal serta pasar,” ujar Yahya.
Menurutnya, pelatihan kewirausahaan tidak cukup jika tidak diikuti akses pekerjaan, permodalan, pendampingan, teknologi dan pemasaran. Karena itu, program peningkatan keterampilan perlu disesuaikan dengan kebutuhan dunia usaha dan pasar kerja.
“Pemuda jangan hanya dilatih, tetapi setelah dilatih harus ada jalan untuk masuk ke dunia kerja atau membangun usaha. Pelatihan harus terhubung dengan kebutuhan pasar, akses modal, pendampingan, teknologi dan pemasaran,” katanya.
Yahya juga mendorong pemerintah mengubah orientasi pengembangan UMKM dari sekadar menambah jumlah pelaku usaha menjadi peningkatan kapasitas dan kelas usaha. Menurut dia, UMKM yang berkembang dapat menjadi salah satu sumber penciptaan lapangan kerja.
“Jangan hanya mengejar berapa jumlah UMKM yang bertambah. Kita harus melihat berapa UMKM yang mampu berkembang, meningkatkan omzet, memperluas pasar dan menyerap tenaga kerja,” ujarnya.
Selain UMKM, Yahya menilai Kota Ambon membutuhkan penguatan sektor produktif melalui industrialisasi berbasis potensi lokal. Ia menyebut pengolahan hasil perikanan, pangan, kerajinan, pariwisata, ekonomi kreatif dan teknologi digital sebagai sektor yang dapat dikembangkan.
“Kita perlu mulai berpikir tentang industrialisasi Kota Ambon. Industrialisasi tidak harus selalu berarti industri besar. Kita bisa membangun industri kecil dan menengah berbasis potensi lokal yang memiliki nilai tambah,” kata dia.
Ia menilai pengembangan industri perlu melibatkan pemuda sebagai tenaga kerja terampil, pelaku usaha, maupun inovator. Untuk itu, pemerintah dinilai perlu memperkuat hubungan antara pendidikan, pelatihan, perguruan tinggi, UMKM, dunia usaha dan kebutuhan tenaga kerja.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Kampus, dunia usaha, pelaku UMKM, organisasi kepemudaan dan masyarakat harus dipertemukan. Pemerintah menjadi pengarah dan fasilitator sehingga potensi pemuda dapat masuk ke dalam aktivitas ekonomi yang produktif,” ujarnya.
Yahya juga mengapresiasi penyediaan ruang bagi pelaku UMKM dan ekonomi kreatif. Namun, ia berharap fasilitas tersebut tidak berhenti sebagai tempat transaksi, melainkan berkembang menjadi pusat produksi, promosi, pengembangan usaha dan penciptaan lapangan kerja.
Di sisi lain, ia menegaskan kritik HMI bukan ditujukan untuk menolak kebijakan pemerintah. Menurut Yahya, masukan tersebut merupakan bentuk dorongan agar program pembangunan memberikan dampak yang lebih luas.
“Kami tidak ingin hanya menjadi kelompok yang mengkritik pemerintah. Kami ingin menjadi mitra kritis dan konstruktif. Ketika ada kebijakan yang baik, tentu kami apresiasi dan dukung. Tetapi ketika masih ada ruang yang harus diperbaiki, kami akan memberikan masukan,” katanya.
Yahya berharap agenda pengurangan pengangguran, penanggulangan kemiskinan, pengembangan UMKM, peningkatan kompetensi pemuda dan industrialisasi dapat ditempatkan dalam satu kebijakan pembangunan ekonomi yang saling terhubung.
Menurut dia, keberhasilan pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.
“Ukuran keberhasilan pembangunan harus kita lihat dari apakah masyarakat semakin sejahtera, apakah pengangguran berkurang, apakah pemuda mendapatkan pekerjaan, apakah UMKM naik kelas, dan apakah muncul sektor-sektor ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja,” ucapnya.
HMI Cabang Ambon, kata Yahya, siap membuka ruang komunikasi dan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Ambon dalam pengembangan kapasitas pemuda dan kewirausahaan.
“Pemuda harus menjadi pelaku pembangunan, UMKM harus naik kelas, dan industrialisasi harus mampu menciptakan lapangan kerja. Kami siap mengawal dan ikut memberikan gagasan untuk mewujudkan pembangunan Kota Ambon yang lebih inklusif dan produktif,” tutup Yahya.


















